Memahami Konflik Rusia vs Ukraina dalam Versi Sinetron

News  
Prajurit perang. (Sumber: Freepik)
Prajurit perang. (Sumber: Freepik)

Sepekan kemarin ibu warung dibikin mumet dengan kabar perang dunia ketiga. Aduh, enggak kebayang kan gimana nasib warung kalo beneran perang.

Semua gara-gara konflik Rusia dan Ukraina. Mereka dulunya satu dalam bendera Uni Soviet.

Karena ibu warung bukan ahli politik internasional, ibu warung cari tahu apa yang membuat kedua negara ini berkonflik. Akhirnya, ketemulah penjelasan yang bikin ibu warung paham. Netizen Weibo membuat penjelasan soal Ukraina, Rusia, Amerika Serikat (AS), dan NATO dengan konsep ala sinetron.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Cerita ini dimulai lebih dari 20 tahun yang lalu. Ukraina (istri) dan suaminya (Rusia), memutuskan bercerai. Atas kesepakatan bersama, beberapa anak menjadi milik istri dan suami.

Mantan suami juga sangat akomodatif dengan meninggalkan banyak harta. Sesemantan juga membantu istri melunasi utangnya yang lebih dari 200 miliar dolar AS.

Usai berpisah dengan mantan suami, si istri mulai bergaul dengan preman. Ia tertarik dengan seorang preman, sebut saja namanya Amerika Serikat (AS), dan ingin bergabung dengan keluarga preman (NATO).

Si mantan suami tentu tidak peduli selama ia tidak diganggu. Tapi, Rusia mulai risih dan merasa terganggu ketika para preman memanfaatkan Ukraina untuk mengancam dan mengkerdilkan dirinya.

Mantan suami mulai marah. Ia memperingatkan mantan istri dengan merebut salah satu anaknya, Krimea.

Sejak itu, Ukraina mulai merasa dendam. Ia ingin menikah (bersatu) dengan keluarga preman (NATO) dan bermimpi nantinya mereka akan membalaskan dendam ke Rusia.

Namun, si istri tak kunjung dinikahi. Di sisi lain, dia terus diprovokasi untuk membuat sesemantan suami marah.

Melihat kelakuan istri yang makin ngelunjak, dua anak mereka yang lain (Donetsk dan Luhansk) menyatakan ingin keluar dari rumah ibunya. Mereka meminta sang ayah untuk mengeluarkan mereka dari sana. Sang ayah pun memenuhi permintaan kedua anaknya.

Di sisi lain, para preman terus mendorong mantan istri untuk berani melawan mantan suaminya. Sebagai tanda dukungan, mereka terus mengirim senjata-senjata usang dan amunisi kedaluwarsa agar sang mantan istri memiliki keberanian untuk bertengkar dengan mantan suaminya. Mereka juga memberi janji akan membelanya dalam pertikaian ini.

Karena terus diprovokasi, sang mantan suami benar-benar murka dan menyerang. Akan tetapi, para preman justru bersembunyi, hanya berkoar-koar mencaci mantan suami dan mengajak seisi desa memusuhinya.

Begitulah kira-kira konflik Rusia dan Ukraina kalau dibuat opera sabunnya. Ibu warung langsung paham.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, jangan biarkan pihak ketiga masuk ke dalam rumah tangga. Konflik harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mau cari apa Follow aja dulu

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image